Perancangan Reaktor Sampah Terpadu dan Pengembangan Mikroba Penghilang Bau Sampah Dalam Rangka Mengatasi Masalah Sampah di Perkotaan

Pemahaman Jurnal Perancangan Reaktor Sampah Terpadu dan Pengembangan Mikroba Penghilang Bau Sampah Dalam Rangka Mengatasi Masalah Sampah di Perkotaan

KETERANGAN JURNAL

Judul                     : Perancangan Reaktor Sampah Terpadu dan Pengembangan Mikroba Penghilang Bau Sampah Dalam Rangka Mengatasi Masalah Sampah di Perkotaan

Penulis                 : Roni Kastaman, Ade Moetangad

Fakultas Teknologi Industri Pertanian – Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600

Sumber                : http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/publikasi_dosen/No.12%20jurnal%20agrikultura%20vol.17%20no.3%20Des%202006.pdf

Sampah merupakan material sisa dari suatu proses yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Jumlah sampah yang dihasilkan setiap harinya tidak sedikit, dan saat ini pembuangannya masih mengandalkan TPA yang ada. Terbatasnya TPA membuat kita harus mencari bagaimana cara agar sampah dapat diolah dengan baik dan dalam waktu yang lebih singkat agar tidak terjadi penumpukan sampah yang dapat mengakibatkan bau busuk dan berpotensi menimbulkan penyakit.

Sampah ditemukan dalam beraneka ragam wujudnya. Berdasarkan sifatnya, sampah dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:

  1. Sampah organik ; dapat diurai (degradable)
  2. Sampah anorganik ; tidak terurai (undegradable)

Sampah  anorganik dan sampah organik harus dipisah dalam penempatannya. Hal ini dapat mempermudah dalam proses pengolahan sampah tersebut. Sampah anorganik dapat di daur ulang sedangkan sampah organik di olah menjadi kompos.

Proses pengolahan sampah organic menjadi kompos saat ini banyak menggunakan EM4 dengan kurun waktu 1 bulan. Namun yang menjadi permasalahnnya selain butuh waktu yang relative lama, juga bau busuk yang ditimbulkan sampah sangat mengganggu. Untuk itu dilakukan penelitian untuk mencari formula bioaktivator yang dapat mempercepat proses pengomposan dan merancang bangun reactor sampah.

ANALISIS BIOAKTIVATOR

Untuk mengetahui formula bioaktivator maka dibuat campuran sampah yang diberi tambahan suspense mikroba yang diberi gula aren (100ml campuran mikroba : 1000ml air dengan 1 sendok makan gula aren & 10ml perisa jeruk) serta diberi penambahan enzim-enzim yang dapat membantu penguraian karbohidrat, protein dan lemak. Setelah dibiarkan 3 hari dalam botol tertutup, kemudian dilakukan identifikasi bakteri. Dari hasil identifikasi diketahui bahwa mikroorganisme yang dominan dalam proses dekomposisi sampah yaitu azotobacter dan ragi. Selain itu, bakteri ini juga dapat meningkatkan suhu sehingga dapat mempercepat proses pengomposan.

Jika dibandingkan dengan EM4, kinerja bioaktivator ini lebih cepat (EM4 membutuhkan 28 hari sedangkan bioaktivator hanya 18 hari). Selain itu, setelah dilakukan analisis proksimat (kandungan unsur hara makro dan mikro serta kandungan logam berat), analisis komposisi asam organic dan analisis fitohormon, bioaktivator ini ideal untuk dijadikan sebagai bahan pupuk cair. Hal ini juga diperkuat dengan adanya uji patogenitas bioaktivator terhadap tanaman (dalam penelitian digunakan cabe, kubis dan 2 jenis kacang-kacangan). Dari penelitian tersebut diperoleh komposisi ideal bioaktivator sebagai pupuk cair yaitu 1:15 (1 bagian bioaktivator : 15 bagian pelarut/air).

REAKTOR SAMPAH ORGANIK & KINERJA BIOAKTIVATOR DI DALAMNYA

Reaktor sampah dirancang berdasarkan jumlah sampah yang dihasilkan penduduk per harinya dan lama bioaktivator menguraikan sampah organic menjadi kompos. Reactor terbuat dari tabung plat besi 1mm yang dilengkapi penutup pada bagian atas dan bawahnya. Bagian atas untuk memasukkan sampah dan bagian bawah untuk mengambil kompos yang sudah jadi. Sampah yang dimasukkan pada lapisan pertama akan diambil sebagai kompos pada hari ke-18.

Bahan bioaktivator yang dimasukkan ke dalam reactor sampah organic dapat melewati tiga fase dekomposisi, yaitu fase mesofilik, fase termofilik dan fase pematangan sehingga bioaktivator ini cocok digunakan sebagai dekomposter dalam reactor sampah ini. Sebagai catatan kadar air sampah tidak lebih dari 60% agar fase mesofilik tidak terganggu.

HASIL

Dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh bioaktivator yang dapat menguraikan sampah organic menjadi kompos dalam jangka waktu yang lebih cepat. Bioaktivator dapat melakukan proses dekomposisi selama 18 hari dibandingkan dengan EM4 yang memelukan waktu 18 hari. Bioaktivator ini juga dapat mengurangi bau busuk yang ditimbulkan oleh sampah.

Reaktor sampah organic yang telah dirancang membuat sirkulasi pembuangan dan proses dekomposisi sampah lebih teratur dan mengurangi pencemaran lingkungan akibat menumpuknya sampah karena kurang ketersediaannya TPA.

This entry was posted in Pemahaman Jurnal Lingkungan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Perancangan Reaktor Sampah Terpadu dan Pengembangan Mikroba Penghilang Bau Sampah Dalam Rangka Mengatasi Masalah Sampah di Perkotaan

  1. Akan lebih baik lagi jika sampah organik dan non organik dibuang pada tempat terpisah sehingga memudahkan pengolahan dan pengelompokan, untuk sampah organik bisa dijadikan pupuk, dan an organik yang terbuat dari plastik dapat disulap menjadi sebuah kerajinan.

    • industri16ririn says:

      seperti terlihat pada gambar rancangan reaktor sampah, disana ada 2 tabung reaktor, yang 1 digunakan untuk sampah organik tabung yang 1 lagi untuk sampah anorganik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s